Aku terjerembab di atas tanah. Aku mencium bau rumput bercampur lumpur dari cipratan air hujan ke wajahku. Bau ini, mengingatkanku pada sebuah taman bunga di pinggir sungai, di sepanjangnya berjajar dipan-dipan, tempat di mana waktu tak terasa habis dicumbui rasa rindu. Gemericik ini, mengingatkanku pada nyanyian burung-burung di akhir musim. Hujan ini, dingin ini, mengingatkanku pada kursi di suatu sudut ruangan dengan kilauan bara api dan gemeretak kayu bakar dari perapian.

Napasku tersenggal satu-satu. Hangat.

Remang-remang ingatan kembali terputar. Jalan setapak ini. Bukit di ujungnya. Petak-petak sawah di sisi kirinya. Lapangan berumput hijau tidak terlalu luas di sisi kanannya. Ada gelak tawa anak-anak desa menggema di kepalaku. Ada isak tangis. Gambar-gambar hitam putih berkeliaran.. Ini..

Ini bukan ingatan. Semuanya hadir di depanku..Ini..

Aku melihat seorang perempuan duduk di bawah pohon cemara. Rambutnya masih tetap tergerai sebagian ke depan. Wajahnya terlihat cemas. Ia terlihat menjauh, menghilang ke arah sebuah kastil di kaki bukit. Di atas kastil itu burung-burung beterbangan. Di belakangnya terlihat hutan pinus. Di depannya ada taman bunga yang diapit pohon cemara berjajar sepanjang kiri dan kanan. Di ujung taman terlihat sungai mengalir tenang sampai melewati jalan setapak di depanku. Aku ingin berteriak, tunggu aku..

Namun perlahan napasku melambat. Kedipan mataku terasa ringan. Ada kedamaian yang dihembuskan angin musim ini. Napas. Hangat. Kedip. Ini..
Gelap.

I don’t know what happened to me.
You might be scared of me as I’m.
Rasa takut yang begitu kuat mengikatku, menenggelamkanku ke dalam palung-palung laut terkelam. Rasa takut yang bahkan mungkin sebenarnya tidak ada.

Manusia bijak akan berkata “Hanya Anda sendiri yang bisa menyelesaikan masalah seperti ini.”
Manusia apatis akan berkata “Urus saja urusan elu sendiri, jangan bawa-bawa guah.”
Manusia yang tenang hatinya akan berkata “Gitu aja kok repot!”
Intinya sama saja. Mereka berpaling. Mereka membohongiku. Mereka mengkhianatiku.
Dan kau, kau akan menjauh sambil menatapku dengan rasa takut..

Aku hanya takut.
Aku takut kehilangan kesadaran terhadap dunia nyata.
Aku takut dunia di dalam pikiranku menguasaiku.
Aku takut tidak ada lagi belaian di pipiku yang menyadarkanku bahwa kehadiranmu bukanlah ilusi.
Aku takut tidak ada lagi pelukan hangat yang menyadarkanku bahwa detak jantungku masih bernapas.
Aku takut tidak akan ada yang berkata “Mari sini, sayangku, peluk aku, jangan takut, aku nyata.”

Aku takut suatu saat dimana diriku tak mampu lagi mempertahankan kesadaran terhadap dunia nyata, di saat dunia di dalam pikiranku menguasai kehidupanku sepenuhnya, tak kan ada orang yang menunjukkanku mana dunia yang benar-benar nyata, mana dunia yang hanya ada sebagai imajinasi di dalam pikiranku sendiri, dan aku hanya akan tertawa-tawa sendiri.

Tidurlah, Malam,
biarkan aku yang tak mengerti perihal gelap
segera melewatimu.

Segera melewatimu..

Perjalanan ini terasa panjang dan melelahkan, sekaligus menyenangkan. Bus ini berjalan lambat, seperti mengulur waktu menjadi untaian benang-benang kusut bercabang dan tak berujung. Aku terpojok di dalamnya seperti onggokan sampah di atas air comberan kotor berbau busuk, diam dan tak dipedulikan, hilang dan dibuang. Penumpang lain tampak membisu sama-sama terbuang, membuat suasana menjadi asing tapi terasa akrab.

Aku tidak mengerti tentang apa sebenarnya yang ada di dalam pikiranku. Tidak. Semua orang tidak sama dan tidak tampak biasa-biasa. Adakah di antara penumpang bus ini mengerti apa yang ada di dalam pikirannya?

Aku melihat diriku di bayangan kaca jendela. Aku melihat wajah lain. Wajah asing, ingin kutolak. Aku melihat tulang wajahku menjadi tegas membentuk penampilan fisik secara kasar. Garis-garis kulit tua di kening seperti menjadi tanda sebuah peristiwa. Kerutan di pojok mata membuat wajahku terlihat rapuh. Tidak. Apa yang penumpang lain lihat dari wajahku? Apa yang mereka lihat dari diriku? Apakah mereka tahu apa yang sebenarnya aku pikirkan? Beri tahu aku..

Bus terus saja melaju, melewati beberapa perkampungan, melewati hutan, melewati para manusia lain yang sama-sama tidak mengerti apa yang ada di dalam pikirannya. Aku melihat bayanganku lagi. Berjuta pertanyaan muncul di kepalaku. Tentang seluruh kehidupanku. Berdiskusi dengan bayanganku sendiri. Diam.

Malam perlahan menyelimuti, temaram, gelap. Suara adzan terdengar, kembali mengingatkanku pada dosa-dosa yang belum sempat diakui, sayupnya terdengar lirih dan jauh… jauh sekali.

Tidak. Bukan aku tidak mengakui adanya Tuhan. Sejauh pengetahuanku, tidak mungkin tuhan tidak ada. Logika sederhana bisa sampai pada kesimpulan bahwa tuhan ada. Bukan. Bukan masalah agama. Agama hanyalah label mengenai cara manusia mencapai hubungan intim dengan tuhan. Tuhan adalah tuhan. Mengakui adanya tuhan dan mematuhi semua ketentuan-Nya mungkin adalah cara terbaik. Bukan. Bukan masalah kepercayaan. Ini masalah fakta: kebenaran. Tuhan yang benar adalah tuhan.

Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku akan keluar dari islam dan masuk kristen hanya karena ada konsep dalam islam yang tidak sesuai dengan hatiku. Tidak . karena faktanya tuhan ada, dan kebenarannya bahwa tuhan adalah Allah, dan Allah yang mengatur manusia dengan islam. Bagaimanapun setidak-masuk-akalnya atau setidak-sesuainya ketentuan tuhan dan agamanya dengan hati dan kepercayaanku, tetap saja adalah benar bahwa tuhan adalah tuhan, tinggal mengikuti kebenaran sederhana ini. Tuhan mana yang penumpang lain anggap benar? Jangan mengikuti hati dan kepercayaan, lihat kebenaran...

Jalan tampak remang-remang. Lampu-lampunya merah memucat. Angin semilir di celah-celah jendela. Mataku mengikuti liukan trotoar. Pikiranku meliuk-liuk di antara kisah-kisah hidupku. Kisah manusia tolol. Setidaknya seperti itu aku memikirkan diriku sendiri saat ini.

Hagh,
Lately, I’ve been wondering if there is a certain path I could walk away. No. Run. I’m just wondering if there is a certain path in front of me to run away from all of these shits of life. Packing all my things, it’s easy, may be need just a bag. Or no. I don’t need a thing. Put everything in their place as well. Erase all my fingerprints on it as clear as possible. May be I just need a sheet of paper. Give a short memo. May be, “Good by”, “Don’t try to find me”, or “Have a nice day”. Or just let it be a blank paper, it explains everything more effective, right? Oh no. May be I don’t need to explain. All I wanna do is running away. As far as possible.

But yeah, I juz cant, and I don’t want..
I’m still here. Figtin. For sumthin. For sumbody. It’s a promise.

Aku juga tidak mengerti apa yang orang lain pikirkan tentang diriku. Terserah orang lain berpikiran apapun tentang diriku. Mungkin ada orang yang ketika ditanya tentang diriku akan menjawab:

“Huh?siapa?”, atau
“Owh, iy tw”
“maaf. Ga kenal”
“ngapain lu nanya2 dia?”
“…”langsung pergi
Whadya say?

Semua perbuatanku telah meninggalkan jejaknya sendiri di dunia ini, tersimpan di balik lumpur dan kerikil yang pernah kuinjak, di antara lagu-lagu, di antara catatan-catatan, di dalam ingatan.

Entah seperti apa orang akan mengingatku kelak. Sebagai manusia bodoh menyedihkan. Sebagai manusia baik patut dipuji. Sebagai manusia biasa. Dibenci. Dikagumi. Dicintai. Tidak sebagai apa-apa. Entah pula seperti apa sebenarnya aku ingin dikenang orang lain. Menjadi bagian dari kenangan orang lain rasanya seperti menanggung beban yang terus bertambah beratnya. Memories are a wonderful thing if you don’t have to deal with the past, someone told me. What kinda person wuld other passengers memorize me?

Aku bukanlah manusia hebat. Aku bukan seperti tokoh utama dalam sebuah novel best seller atau film box office yang setiap tindakan, ucapan, dan keputusannya akan membawa ke akhir cerita yang spektakuler, menyentuh, menjadi inspirasi. Tidak. Aku tidak tahu. Mungkin aku hanya menjadi seorang tokoh figuran yang hanya kecapture satu adegan, atau ditulis dalam satu kalimat. Aku hanya mencoba memerankan peranku sebaik mungkin. Atau mungkin lebih baik tidak berperan sama sekali sehingga orang lain tidak perlu berurusan denganku…

Malam semakin gelap. Bus tetap lambat. Aku teringat masa kecilku. Masa-masa dimana dunia terlihat tidak seperti yang kulihat detik ini. Dunia dimana kenangan, harapan, dosa, pengampunan, menjadi bagian tak terpisahkan, menghantamku habis-habisan. Dunia dimana aku pernah merasa tidak berada di mana-mana. Akh, di mana aku sekarang?

Semuanya telah berubah sekarang. Aku berubah menjadi diriku yang lain di setiap tempat. Berubah karena memasuki berbagai pemahaman dan pembelajaran. Kadang berubah menjadi lebih baik. Kadang tanpa sadar berubah menjadi buruk. Mungkin di sinilah letak keeksotisan hidup. Mungkin di sinilah letak ketidakmengertianku.

Hanya aku yakin. Ada hal yang tak kan pernah berubah dalam diriku. Aku tidak ingin merubahnya. Ada hal yang aku inginkan tetap sama. Dan aku yakin, akan tetap sama…

Wait, Hahahaha,
Am I being sentimental?
No, It’s just a conversation. Stupid me conversation.

Mmm… Jangan membayangkan aku sedang bercerita sambil meratap-ratap. Aku hanya sedang berdiskusi dengan diriku sendiri. Jika kau ingin ikut mendengarkan, silakan ambil kursi, duduklah dekat meja bundar di depanku ini. Ada secangkir cappuccino yang masih setia menemaniku. Bayangkan saja aku sedang duduk menghadapmu bercerita, sesekali tersenyum, sesekali menarik napas, sambil memainkan adukan sendok di bibir cangkir.

Mungkin aku pernah menjadi manusia yang berpikir bahwa suatu saat aku akan menjadi diriku yang lain dan merasa tidak akan menjadi diriku seutuhnya jika menjadi diriku seperti itu. Mungkin juga aku pernah menjadi diriku seutuhnya sebagai manusia dan aku merasa bahagia. Mungkin juga aku pernah berpikir tentang diriku yang lain. Mungkin sekarang aku sedang menjadi sebuah bagian dari diriku. Apapun yang sebenarnya akan menjadi bagian dari diriku seutuhnya kelak, manusia apapun yang akan dikenang oleh orang lain tentang diriku, kelak, aku hanya akan menjadi diriku saat itu. Aku mungkin akan berterimakasih kepada diriku sendiri karena telah berpikir dan menjadi manusia yang pernah aku pikirkan dan aku lalui. Tapi kelak, aku hanya akan menjadi diriku saat itu, dengan beberapa bagian yang akan tetap sama. Diriku yang seperti apa yang penumpang lain harapkan kelak..?

Hagh,
“Who am I to you?” she asked me one day,
I was too afraid to ask who I was to her..

Aku tidak malu untuk mengakui bahwa aku pernah menjadi bagian terburuk dari diriku. Aku pernah menjadi manusia lemah. Aku pernah melakukan kesalahan-kesalahan. Aku pernah bertindak buruk sehingga orang lain menganggapku sebagai orang yang tidak patut dihargai. Aku pernah melakukan hal-hal konyol menjadi cemoohan orang lain. Aku pernah melakukan hal-hal yang memalukan. Disadari atau tidak, aku telah melakukannya.

Jika waktu bisa diputar, mungkin banyak orang yang berkata bahwa ia tidak ingin mengubah hal sekecil apapun selama perjalanan hidupnya, tidak ada keputusan atau kejadian yang disesali karena telah membawa dirinya ke dalam kehidupan ia saat ini dan merasa bahagia.

Sedang bagiku, jika waktu bisa diputar, aku tidak akan membohongi diri sendiri hanya karena misalnya saat ini aku merasa bahagia. Ada banyak tempat sepanjang perjalanan hidupku yang sebenarnya ingin aku ubah, ada banyak keputusan yang kusesali. Aku merasa bersalah karena telah melakukan kesalahan, aku merasa malu karena telah melakukan hal yang memalukan. Aku ingin sekali memperbaiki kejadian-kejadian tersebut. Aku seharusnya tidak melakukan hal ini, seharusnya aku melakukan hal itu, mungkin hal lainnya tidak seharusnya kuputuskan. Mungkin banyak sekali penyesalan yang bahkan tidak aku sadari. Jika waktu bisa diputar.

Ada cara lain yang bisa menggantikan penyesalan. Jika dulu aku pernah melakukan suatu kesalahan, maka sekarang aku tidak akan melakukannya lagi. Jika dulu aku pernah melakukan hal-hal yang memalukan, maka sekarang aku akan berusaha menghargai diriku sendiri. Aku akan memaafkan orang-orang yang melakukan kesalahan, aku juga tidak akan menertawakan orang-orang yang melakukan hal-hal yang memalukan.

Aku tidak tahu sejauh mana diriku telah mengambil pelajaran dari perjalanan hidupku. Setidaknya itu yang kupelajari. Aku tidak malu untuk belajar. Untuk menemukan bagian terbaik dari diriku..

Aku juga tidak tahu sejauh mana bus ini telah melakukan perjalanan. Sudah berapa barrel bahan bakar yang ia habiskan. Sudah berapa ribu manusia yang ia antarkan. Sudah berapa sepeda motor yang ia tabrak lari. Pernahkah aku naik bus ini sebelumnya. Atau mungkin tidak kemana-mana, bukankah hanya mengikuti trayek? Hm, tapi aku yakin, ini bukan bus ke neraka, kawan.

Aku membayangkan apa yang penumpang lain pikirkan di antara keheningan seperti ini. Aku tahu mereka terjaga. Atau mungkin ini bukan keheningan, mungkin ada gemuruh di setiap hati dan pikiran mereka. Mungkin mereka sedang memikirkan hal yang sama dengan apa yang aku pikirkan.

Bus ini tidak penuh. Beberapa penumpang duduk berjauhan. Banyak kursi kosong. Aku duduk di pojok kiri paling belakang. Di pojok kanan ada seorang perempuan. Di depanku ada kernet. Di baris depannya ada seorang kakek tua. Di baris kanannya ada pengamen. Di depannya lagi ada ibu-ibu. Di baris kanannya ada bapak-bapak. Dan baris seterusnya terlihat bermacam-macam kepala, terakhir kepala sopir. Semua sepertinya sibuk dengan pikiran masing-masing.

Dan ada satu yang dari tadi menggangguku, yang membawa pikiranku pada tingkat kontemplasi seperti ini: tempat duduk di sebelahku kosong, seperti ada yang tertinggal..

Mungkin si kernet gelisah karena setoran hari ini belum cukup, mungkin perempuan di ujung kananku baru saja diusir orang tuanya, Si pengamen sedang meresume kejadian sepanjang hari ini, Si kakek tua sedang merasa jadi manusia paling bahagia karena beliau mau menjenguk cucuknya, Si sopir merasa tidak kuat menahan kantuk, dan sebentar lagi bus ini terjun bebas ke jurang pinggir jalan. Mungkin sebenarnya tempat duduk di sampingku tidak kosong, karena aku merasakannya. Mungkin. Akh, semua kemungkinan ini sebenarnya semakin mengucilkanku sebagai manusia yang tidak tahu apa-apa…

Di luar, di balik awan yang terlihat pucat, ada bulan mengintip. Di balik jendela, titik-titik hujan mulai berjatuhan. Senang rasanya, masih bisa melihat bulan dengan perasaan, emosi, dan pemahaman yang sama. Masih bisa menghirup hujan dengan perasaan, emosi, dan pemahaman yang sama. Aku tidak ingin merubahnya. Bulan dan hujan merupakan bagian dari hal yang aku inginkan tetap sama. Dan aku yakin, akan tetap sama…

Ada yang telah mengajariku sisi lain pemikiran. Ibarat aku sedang berdiri menghadap sebuah tembok. Ketika semua interaksi antara aku dan tembok terjadi, entah disentuh, entah diteriaki, bukan respon tembok yang seharusnya menjadi pemusatan pikiran, karena pada hakikatnya, interaksi yang paling intens, yang menjadi awal semua interaksi, yang menyebabkan seruntutan respon si tembok, adalah kejadian bahwa aku berdiri menghadap tembok. Tidak benar-benar kupahami sebenarnya analogi seperti itu, tapi setidaknya aku mengerti bahwa aku sekarang sedang berdiri menghadap sebuah tembok. Tembok yang dengan lantang terus saja menghadirkan keheningan, kawan.

Ada yang telah mengajariku sisi lain kebahagiaan. Bahwa sebenarnya tidak ada hal yang bernama kebahagiaan. Jika seseorang berkata ingin hidup bahagia, taik! Aku juga tidak benar-benar memahami kebahagian seperti apa yang ia bicarakan. Malah terdengar seperti ratapan. Kekecewaan.

Jika aku memikirkan kebahagiaan, aku selalu sampai pada kesimpulan bahwa apapun bentuk kebahagiaan yang aku rasakan, aku ingin merasa bahagia telah merasakannnya. Mungkin aku menginginkan kebahagiaan yang tidak seperti itu, tapi toh jika pada akhirnya apa yang kudapat hanyalah sebahagia itu, aku ingin merasa benar-benar bahagia.

Sebenarnya, mungkin mencari kebahagiaan hanyalah salah satu bagiaan dari pemenuhan ego. Aku bisa seenaknya menentukan tipe-tipe kebahagiaan sesuai seleraku. Saat aku menentukan sesuatu sebagai kebahagiaan sebenarnya aku membunuh kebahagiaan lain atau kebahagiaan bagi orang lain. Dan ketika orang lain menentukan sendiri kebahagiaanya, sebenarnya ia telah membunuh kebahagiaan lain atau kebahagiaanku. Idealnya, ada kebahagiaan yang sama-sama ditentukan sebagai kebahagiaan. Tapi di sisi lain, sebenarnya bukan kebahagiaan yang ditentukan, melainkan ego mana yang harus dipenuhi. Kenapa manusia harus bahagia? Ada apa dengan kebahagiaan? Kebahagiaan seperti apa yang penumpang lain inginkan? Huh, how selfish they are. How selfish I’m..

Mungkin benar, the happiness is something that we can only pursue,,, and may be we can actually never have it…

Malam semakin larut. Bus terus menderu-deru. Pikiranku terus berlari. Berlari menjelajahi dimensi-dimensi tak bertuan. Dimensi dimana aku pernah tersesat. Dimana aku pernah ditemukan. Dimensi yang begitu gelap… Hi, are you there with a candle light?

Sejenak aku merasa bebas menjadi diriku sendiri. Melupakan semua batasan. Melakukan hal-hal yang didasari kemauan, mengesampingkan kewajiban. Sejenak, semua tampak nyaman… Sejenak aku ingin bus ini tidak akan pernah berhenti.

Aku pernah dibunuh rasa lelah. Aku pernah dilahirkan kembali karena harapan. Aku tidak ingin mati lagi oleh alasan apapun. Ada bilang bahwa apa-apa yang tidak membunuhnya membuatnya lebih kuat. Bagiku, apa-apa yang telah membunuhku justru membuatku lebih kuat. Mungkin ini kenapa ada yang bilang bahwa keinginan untuk hidup lebih kuat dari apapun, bahwa pemberani sejati bukanlah orang yang tidak takut mati tapi pemberani sejati adalah orang yang tidak takut hidup. Tidak takut untuk benar-benar hidup. Hm, apa yang penumpang lain takutkan? Hidup mati, mati hidup, hiduphidupmatihidupmati. Mati. Hidup.

Aku teringat humanisme.
Aku melihat sisi lain egoisme.

Ketika manusia membutuhkan manusia lain, ada batasan ego yang rumit dijabarkan. Tumpang tindih antara kewajiban, perasaan, keinginan, dan sesuatu yang sering disebut “tidak tahu kenapa” atau “karena memang begitu”. Contoh sederhana, ketika seorang manusia membantu temannya, dia membantu karena dia adalah temannya, bukan karena kesadaran bahwa antar sesama manusia sudah seharusnya saling menolong. Mungkin ada orang yang tidak bisa menolong orang lain hanya karena alasan-alasan sepele, bukan tidak bisa menolong tapi tidak mau, bukan tidak mau tapi karena memang perasaan sudah tidak bisa menolong, saya juga punya banyak pekerjaan, maaf. Contoh lain, orang akan sulit sekali untuk memutuskan antara memilih tetap menunggu orang yang dicintainya atau memilih datang kepada orang lain yang mencintainya yang sedang menunggu dia. Contoh lain, perempuan jarang sekali yang mau menerima laki-laki apa adanya. Misalnya perempuan pacaran dengan seseorang, tapi kemudian ia menikah dengan orang lain karena seseorang tadi tidak jadi orang sukses dan menderita. Malah mungkin si perempuan merasa senang sekali karena telah memutuskan pacarnya sehingga tidak ikut menderita. Tapi di sisi lain, apakah ada orang yang mau melihat orang yang dicintainya menderita?

Sulit sekali menemukan orang yang mau berkorban sepenuh hati demi orang lain. Akh, mungkin ini kenapa ada sisi humanisme yang disebut cinta. Tidak ada motivasi lain yang lebih kuat selain cinta. Seseorang akan akan melakukan apa saja untuk orang yang dicintainya meskipun harus melewati batasan-batasan, melakukan penaklukan-penaklukan yang tak terbayangkan, bahkan menciptakan alasan-alasan imajiner: stupidity.

Ada perasaan yang pernah kuciptakan, setelah sebelumnya ada banyak peperangan di dalam jiwaku sebelum kata-kata ini kuikrarkan:

Tak perlu cemas jika malam terlalu kelam, sedang tak ada pelita di jalanmu, biarkan rasa takut melebur dalam gelap bersama hening yang redam dan ilusi yang lelap, aku akan menjagamu dari mimpi, mengajarimu cara hari menyambut pagi.

Juga jangan merasa khawatir jika esok mentari berpaling tak memberikan sisi terang kehidupan, sedang temaram fajar masih menyisakan kebekuan di hatimu, aku akan menjelma serupa kehangatan yang menyelimutimu, walau tubuhku harus dibakar tak bersisa abu..

Hagh,
Aku akan menjelma serupa kehangatan yang menyelimutimu, walau tubuhku harus dibakar tak bersisa abu… Entah untuk siapa tubuhku akan dibakar, entah siapa pula yang membutuhkan kehangatan dariku…
Do u ?

Mmm,
Bus ini masih melaju, perjalanan ini masih panjang..
Cappuccino hampir habis, apa aku harus berhenti bercerita?
Or will u gimme one more cup?

I think it was a better day when she said, "Old age is not for sissies".
But it was told story who said the biggest surprise in the men's life is old age.
Old age sneak upon u.
And the next thing u know u're asking urself, i'm asking myself.
Why can't an old man act his real age?
How is it possible for me to still be involved in the carnal aspects of the human comedy?
Because, in my head, nothing has changed.

On the night like this
There're so many things I want to tell you
On the night like this
There're so many things I want to show you

'Cause when you're around
I feel safe and warm
When you're around
I can fall in love every day

In the case like this
There are thousand good reasons
I want you to stay..

Bayangkan 20, 30 tahun ke depan.

Anda menikah dengan seseorang sudah bertahun-tahun. Tiba-tiba suatu pagi anda bangun dan tersadar bahwa bukan pernikahan seperti selama itu yang anda inginkan, bahwa di saat yang sama ketika anda bersama suami/istri anda, anda memikirkan orang lain yang sebenarnya anda harapkan menjadi jodoh anda. Anda tidak merasa bahagia dengan pernikahan anda. Anda mungkin kembali mengingat-ingat orang yang dulu pernah dekat dengan anda, dan bertanya kenapa tidak memilih yang akan membuat anda bahagia, dan mungkin salah satu dari sekian kedekatan anda adalah saya.

Atau mungkin suatu pagi anda terbangun dengan perasaan bahagia dengan pernikahan anda. Anda sekedar mengenang kembali orang-orang yang dulu sempat mengisi hari-hari anda. Anda tersenyum karena merasa keputusan yang anda ambil selama mencapai jodoh tidak ada yang salah, bahwa suami/istri anda adalah hal terbaik yang terjadi dalam hidup anda. Tanpa anda tahu, bahwa mungkin di belahan dunia lain ada orang yang sedang memikirkan anda, bahwa ia sangat berharap menjadi jodoh anda, bahwa mungkin orang tersebut adalah saya.

Pertanyaannya adalah, jika suami/istri anda suatu saat bertanya apakah anda bahagia menikah dengannya, apa yang akan anda katakan?
Yakin?
Jujur?
Selamat, anda telah menyakiti suami/istri anda. Dan saya.
--------------------------------------------------------

[Or may be sumday u wake up next to me. Will u really happy?]